Pelajaran Hidup Dari Rumah Sakit

Pelajaran hidup itu bisa kita dapatkan dimana-mana. Terkadang, hanya dengan ngobrol bersama seorang tukang becak yang tua renta dan mengarungi kesehariannya sendiri karena anak-istrinya sudah pergi meninggalkannya, membuat kita mendapat pelajaran hidup. Tapi kalau kita ingin mendapatkan pelajaran hidup hanya dengan memandang, mendengar, dan merasakan lebih dalam, cobalah sedikit meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah sakit. Tentunya, berada di rumah sakit besar sebagai tempat rujukan pasien dari berbagai daerah seperti RSUD Dr Soetomo.

Pemandangan pertama sebagai orang awam kita mulai dari Instalasi Gawat Darurat. Tepat dipintu masuk, kita bakal diberikan sajian yang cukup mengaduk-aduk perasaan kita. Dalam beberapa menit, pemandangan orang berlumuran darah karena kecelakaan menjadi menu lumrah. Ada orang tua, yang mengalami penyakit dalam serius, harus di dorong menggunakan tempat tidur dorong dalam keadaan tidak sadarkan diri. Atau, anak kecil yang mengerang bahkan menjerit kesakitan, karena baru saja badannya terkena tumpahan kuah panas setelah ceroboh berlari-larian di dapur rumahnya. Ini pemandangan yang kita lihat mengerikan dan akan berlangsung cepat dan selintas selalu.

Lalu, mari kita berjalan beberapa meter lagi untuk menyusuri beberapa lorong rumah sakit. Di sepanjang jalan ini, kita akan melihat beberapa orang –bahkan beberapa diantaranya berkelompok—sedang mengelar tikar, kasur dan bantal untuk mereka beristrahat. Nampak seorang wanita tua begitu sembab matanya. Sepertinya kelelahan, atau mungkin ia terlalu banyak menangis meratapi nasib anaknya yang baru saja diamputasi bagian kaki karena menderita kanker tulang. Di lorong yang lain, saya sempat melihat wanita tua yang sedang bersujud menghadapNya. Selapas menunaikan kewajiban sholatnya, ia berdoa cukup lama. Sayup-sayup diantara bacaan doanya, ia sesenggukan, menangis, dan lelehlah air matanya itu.

Dari balik jendela sebuah sal, saya mendengar sekelompok keluarga yang tertawa riang karena operasi yang berlangsung pagi ini berjalanan, mungkin dalam 2-3 hari lagi si pasien diperbolehkan pulang. Sementara di tempat tidur yang lain, terlihat pria gondrong yang sedang melamun, karena sudah seminggu ini ia menginap untuk operasi pengambilan plat di punggungnya setelah kecelakaan kerja, belum juga ada jadwal operasi yang turun kepadanya.

Situasi yang sangat kompleks di rumah sakit seperti ini, hendaknya bisa menyadarkan kita betapa anugerah terbesar yang sudah Allah SWT berikan dalam diri manusia adalah kesehatan. Jadi, mari sama-sama kita berfikir bahwa rejeki bukan saja uang, namun ketetapan Allah yang mengijinkan kita untuk tetap sehat dan bisa beraktifitas normal adalah keajaiban yang tak terkira nilainya. (rif)

Comments

Kesucian Pemudik

Jalan-jalan mulai ramai. Dan yang menarik adalah tampilan para pemudik. Satu sepeda motor, 2-3 kardus atau tas ransel yang besar-besar. Belum lagi penumpangnya bisa tiga, atau bahkan empat sekaligus. Mudik adalah ritual suci yang bagi sebagian orang adalah momentum yang tidak boleh terlewatkan. Hadist Rasulullah menyebutkan, bahwa amalan yang langsung dibalas oleh Allah saat Idul Fitri adalah sodakoh dan silaturahmi. Artinya, mudik sebagai ritual keagamaan yang bermakna silaturahmi adalah bentuk ibadah yang mendapatkan ridho secara langsung dari Allah SWT.

Jika hari-hari biasa, saya yakin orang akan malas jika harus bepergian dengan kondisi macet, sepeda motor harus dinaiki 3-4 orang, membawa barang bawaan yang berat dan banyak. Belum lagi jika harus menggunakan kendaraan umum. Pemudik harus menghadapi calo, mahalnya harga tiket, situasi yang padat di dalam bis atau kereta. Dan resiko paling mengerikan adalah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Sungguh situasi yang tidak nyaman saat mudik adalah hal yang tidak diinginkan oleh siapapun. Namun karena mudik adalah ibadah –momentum membangun silaturahmi—maka mudik yang sakral itu (mau tidak mau) seperti sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Bagi orang yang tidak memiliki kampung halaman, mudik mungkin hanyalah ritual yang buang-buang tenaga, waktu, dan uang. Namun bagi yang menjalankannya, mudik bermakna luar biasa.

Dari ritual mudik ini, seorang anak bisa mencurahkan perasaan kangen yang sudah bertahun-tahun tertahan kepada orang tuanya yang sudah menanti kabar. Bagi yang baru saja memiliki anak di kota, maka mudik merupakan saat yang tepat untuk memperkenalkan anggota baru dalam keluarga besar, agar satu sama lain saling mengenal. Mudik juga memiliki makna sosial, sebagai ajang aktualisasi diri: “Ini lho aku yang bekerja di kota, bisa pulang bawa motor, membawa sangu (uang saku) untuk keponakan-keponakan, dan tak lupa memberi tinggalan (uang) untuk orang tua.

Begitu besar makna mudik, sehingga menjadi dosa besar ketika ada pihak-pihak yang mencemooh, dan bahkan terang-terangan menolak ritual mudik. Sudah semestinya, pemerintah sebagai ibu dari masyarakat memberikan fasilitas yang selengkap-lengkapnya untuk mengiringi kesucian pemudik. Mulai dari memperhatikan kondisi jalan, sampai memberikan jaminan keamanan dari kriminalitas. Dari mengadakan mudik gratis, sampai menyediakan pos-pos pantau yang mungkin bisa dijadikan tempat beristirahat sementara melepaskan kepenataan setelah perjalanan jauh.

Selamat jalan pemudik, semoga ibadahmu lancar tanpa hambatan apapun. Amin..

Comments

KPK Nasibmu Kini

Kalau ada lembaga yang benar-benar bisa terlihat kerjanya pasca reformasi (setelah Indonesia mengalami masa-masa korupsi berjamaah), maka Komisi Pemberantasan Korupsi lah jawabannya. Meski KPK periode I bertugas relatif datar-datar saja, namun KPK periode II yang dipimpin Antazari Azhar bertugas luar biasa. Siapapun yang memang terlibat dugaan korupsi diusut. Mulai dari pejabat daerah, anggota DPR RI, sampai besan Presiden pun tak lepas dari pengusutannya.

Tapi sayang, tak ada gading yang tak retak memang. Pimpinan KPK berulah. Dan dari ulah “nakal” Antazari Azharlah, para koruptor yang sejak dulu sangat risih dengan keberadaan KPK seolah punya peluang untuk memberangusnya. Terlebih, lembaga hukum lain yang merasa KPK adalah saingan utama, seakan-akan mendapat kesempatan untuk menjegal musuhnya tersebut. Mulai dari pengusutan dugaan pembunuhan yang dilakukan AA, sampai “testimoni” yang sampai sekarang tidak pernah jelas kebenarannya.

Dan sekarang ini, KPK seolah hidup sendiri. Karena Presiden sebagai pucuk kekuasan tertinggi di republik ini, mengaku tidak bisa turut campur dalam perseteruan lembaga hukum yang ada di bawahnya.

Kita memang mengamini bahwa tidak ada yang kebal hukum di negeri ini. Kita juga bersepakat bahwa, tidak boleh ada yang terlalu berkuasa di Indonesia sehingga bisa bersikap sewenang-wenang. Namun, jika dua alasan diatas kemudian menjadi pisau untuk memutus urat nadi kebenaran, maka kita harus menumpulkan mata pisau itu.

Jika memang pimpinan KPK yang sudah non-aktif itu membuat ulah, biarlah ia sendiri yang menanggung aib pribadinya itu. Janganlah kemudian sentimen itu meluas sehingga lembaga yang begitu independen terkena getahnya. Dan lembaga hukum yang berseteru dengan KPK, jangan terlihat bernafsu untuk menghabisi saingannya. Sudah cukup sampai disini drama perseteruan antar lembaga hukum di Indonesia. Rakyat sudah bosan dengan perselisihan yang “sebenarnya” semakin membuat masyarakat semakin benci dengan si-pembuat onar. Suatu saat masyarakat akan berkata, tidak peduli cicak, buaya, atau godzila sekalipun, kalau menjadi pembuat masalah, akan dipukuli ramai-ramai.

Comments

Mereka Benar-Benar Lupa

Gempa bergetar. Tasikmalaya sebagai tempat yang paling dekat dengan pusat gempa adalah lokasi yang paling parah porak porandanya. Jakarta yang juga masih tetangga ikut bergoyang. Yang kebetulan menjadi karyawan di gedung pencakar langit paniknya minta ampun. Bahkan, ada yang bilang: “Ketika kami panik dan berlarian keluar gedung, kami sempat terjatuh karena hilang keseimbangan. Goncangan gempanya begitu terasa di lantai atas.”

Memang gempa 7,3 SR itu begitu luar biasa. Mengguncang saat ramadhan. Siang hari pukul 14.55 saat umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari. Haus, panas, lelah, lapar, semua menjadi satu. Yang pasti, ada rahasia Tuhan dibalik bencana. Ada hikmah dibalik Musibah.

Tapi bukan itu yang hendak saya komentari.

Masih ingatkah kita dengan musibah jebolnya Situ Gintung. Bencana air bah itu terjadi saat akan berlangsungnya hajat besar bangsa: Pemilu Presiden. Sontak ramai di pemberitaan, foto headline media ada 2 orang yang sedang mengejar tampuk kekuasaan, seolah berlomba-lomba: Ini lho aku calon pemimpinmu yang peduli, yang mau datang menengok korban bencana. Ahh… basi. Jelas mereka mau menengok, jelas mereka mau datang. Ditengah kesibukan pun, masih di sempat-sempatkan. Wong, namanya juga mau cari suara.

Tapi sekarang miris, belum ada yang terlihat rebutan menengok ditengah bencana gempa Jawa Barat. Belum ada yang rebutan menyumbang sambil diliput media. Pikir mereka: –buat yang menang—ngapain susah-susah wong sudah menang. Sementara yang kalah juga nggak mau kalah, wong sudah kalah ngapain susah-susah, biaya kampanye aja belum balik modal.

Entahlah, semoga ada yang mengingatkan mereka. Wong cilik dari dulu kan memang cocok cuma jadi obyek eksploitasi. Kalau sudah tidak dibutuhkan, mirip seperti kertas bungkus yang dilempar begitu saja di keranjang sampah. Menyakitkan…!!!

Comments

Mengapa Noordin Susah Di Tangkap?

Inilah pertanyaan yang kerap mengemuka saat ada insiden pengeboman terjadi. Sejak meledaknya Bom Bali I tahun 2002, hingga Bom Marriott II tahun 2009 ini, Noordin belum tersentuh sama sekali. Ada yang sempat menyebutkan Noordin hampir tertangkap, bahkan pernah berpapasan langsung dengan polisi saat rasia kendaraan bermotor, namun warga negara Malaysia ini juga tidak pernah berhasil di borgol petugas.

Ada cerita yang sempat berkembang: Noordin hampir saja tertangkap namun karena petugas telat datang ke TKP 3 menit, pria yang kerap berganti-ganti penampilan ini lolos. Seorang teman bahkan menyebutkan: Noordin punya ilmu. Dimana orang yang berpapasan dengannya, meski sebelumnya sangat hafal dengan wajahnya, akan lupa dengan seketika. Soal benar tidaknya kabar ini, hanya Allah SWT yang tahu.

Namun saya menduga bahwa Noordin hanyalah ikon terorisme di kawasan Asia Tenggara. Seperti layaknya Osama Bin Laden yang tersohor di bumi Timur Tengah. Gampangnya, tengok saja pengeboman yang terjadi di Marriott dan Ritz di tahun 2009 ini. Petugas menduga sejak awal bahwa pelaku peledakan merupakan jaringan M. Top. Hal ini ditilik dari karakter bom yang belum sempat menyalak di kamar 1808 hotel Marriott. Namun setelah investigasi dilakukan, akhirnya diketahui bahwa meskipun ada peran Noordin, namun pelaku bom adalah kelompok baru. Kelompok Syaifuddin Jaelani –atau Zuhri—dan Ibrohim ini adalah sel baru dari jaringan terorisme. Bahkan, pelaku bom bunuh diri, adalah pengantin yang benar-benar baru dan muda, yakni: Dani Permana yang usianya belum genap 20 tahun.

Bagi saya Noordin adalah pemimpin tertinggi –di Asia–. Bisa jadi dialah penghubung dengan jaringan internasional. Bisa jadi ia hanyalah konseptor seperti pemimpin pada umumnya. Bahkan sangat mungkin, Noordin berpindah-pindah tempat, bukan hanya berada di Indonesia, ia bisa berada di negeri asalnya Malaysia, atau sedang berada di Thailand –mungkin—atau sedang berada di Filipina. Siapa yang tahu.

Sementara ledakan demi ledakan terjadi di berbagai belahan dunia bukan hanya di Indonesia, saya yakin itu murni bukan pemikiran Noordin. Mungkin juga, bukan keinginan Noordin. Perang antara kaum garis keras dengan pemerintah yang dinilai dzolim terus saja terjadi, itu pun juga sangat mungkin bukan karena ulah Noordin. Lagi-lagi saya menduga, ada orang-orang yang melakukan aksinya dengan mencatut nama Noordin. Ketika bom menyalak, yang jadi pelaku mengatakan: “Atas perintah Noordin”. Padahal Noordin sendiri baru tahu kalau ada ledakan di Indonesia. Hal ini, mirip ledakan-ledakan yang terjadi di Timur Tengah dan menewaskan tentara Amerika dan sekutunya. Yang ngebom selalu mengklaim: “Atas perintah Osama” “Al Qaeda bertanggung jawab”. Padahal, belum tentu Osama yang meng-otakinya secara langsung

Kenapa Noordin susah ditangkap, karena Noordin hanyalah ikon. Orang besar yang bertindak diatas. Koordinator yang memimpin secara umum yang –mungkin—sering mengadakan rapat-rapat tingkat tinggi antar pemimpin teroris level dunia. Hari ini di Indonesia, bisa jadi esok Noordin sudah berada di Filipina, atau mungkin di dataran Arab.

Karena itu, jika pertanyaannya kenapa masih saja terjadi ledakan-ledakan bom di Indonesia? Saya pikir jawabannya mudah saja. Karena sel terorisme ini sudah berkembang sedemikian pesat bahkan menggurita di sekitar kita. Banyak orang yang kemudian terdoktrin menjadi teroris, –bisa jadi– awal perekrutannya dulu selalu ada kalimat: atas perintah Noordin. Padahal yang menjadi pemimpin peledakan sampai orang yang bersedia meledakan itu, belum tentu pernah bertemu hidung dengan yang namanya Noordin. Bisa jadi Noordin sudah mati, tapi namanya dikondisikan tetap hidup sebagai kekuatan. Kalau toh suatu saat nanti Noordin benar-benar ditangkap dan berhasil dihukum mati, saya pun masih tidak yakin kalau aksi-aksi pengeboman ini akan berakhir.

Comments

Filosofi Lirik “Tak Gendong”

Seorang komedian bernama Cak Suro membuka mata saya saat diwawancarai oleh presenter stasiun tivi. Pria yang juga ikut nimbrung di Republik Mimpi ini bilang “Saya kenal dekat dengan Mbah Surip. Termasuk dulu, beliau menceritakan lagu tak gendong yang sekarang sedang booming itu kepada saya. Lagu itu menceritakan Mbah dengan gitarnya yang digendong dari Mojokerto ke Surabaya.” Menurut orang-orang dekat Mbah rambut gimbal ini, saat pertama kali bertandang ke Jakarta, beliau memang berkendara menggunakan sepeda dan menggendong (menenteng) gitar kotak bikinannya sendiri.

Banyak orang yang tidak memahami isi lagu tak gendong. Banyak orang yang menilai, ini lagu suka-suka, dibuat sekenanya, mungkin cuma dibuat sebagai lucu-lucuan. Kalau ngomong lucu, pria bernama asli Urip ini memang jagonya. Bahkan teman-temannya sesama seniman mengaku, Mbah Surip ini sering ditanggap buat lucu-lucuan. Kebiasaan Mbah Surip yang kalau nyanyi matanya selalu terpejam, selalu dijadikan bahan usil teman-temannya. Pas matanya sudah merem, mulut komat-kamit bernyanyi, salah satu teman usil beraksi menyembunyikan lirik lagu yang ada di depan Mbah Surip. Jelas saja, Mbah gimbal yang tidak hafal dengan lagu yang dinyanyikan waktu itu, kelimpungan nggak karuan. He-he-he…

Tapi kembali ke lagu tak gendong, ternyata lagu ini memiliki isi filosofis yang sangat dalam. Ada perasaan cinta disana. Bukan cinta yang menye-menye a.la Romeo and Juliet, bukan juga cinta yang kejam bagai kisah Siti Nurbaya yang dipaksa kawin dengan duda tua, tapi kisah cinta seorang pria yang berkelana dari Jawa Timur menuju ke daerah Jawa bagian barat—yakni Jakarta—dengan menggunakan sepeda dan membawa gitar. Dan gitar kotak buatannya sendiri itu lah yang menjadi kekasihnya. Saking cintanya kemana-mana, Mbah Surip selalu menenteng gitar kotaknya. Ibarat kekasih, selalu digandeng kemana pun agar tidak kecantol pria lain. Atau ibarat bapak dengan anaknya yang masih kecil, ketika lepas bermain dan si anak mulai kecapekan, maka bapaknya dengan perasaan sayang langsung menggendongnya di bagian punggung.

Itulah Mbah Surip. Slengean, nyentrik, guyon, bahkan beberapa orang yang baru mengenal menganggapnya rada gila. Tapi dibalik kegilaannya—yang entah dibuat-buat atau tidak—muncul sebuah hal yang sudah diluar batas orang yang mengaguminya. Lagu yang sepele, ringan, dengan lirik acak-kadul itu, ternyata menyimpan makna yang luar biasa dalam. Lagu itu bukan sedang menceritakan kisah asmara anak manusia, bukan pula lagu yang maknanya tentang ayah yang menggendong anaknya, tapi lagu spesial yang mungkin didedikasikan khusus kepada gitar kesayangannya. Sangat simbolis, namun ketika kita memahami cerita dibalik lagunya, kita menjadi kaget bahwa lagunya Mbah Surip bukan sekedar lagu bodoh yang kebetulan sedang disukai orang-orang di Indonesia. Namun lagu tak gendong—selain memang gampang sekali diingat—bisa memberikan cerita yang mengharukan. Dan saya pikir, hanya orang-orang pinter saja yang bisa bercerita melalui lagu tanpa harus menggambarkannya secara gamblang. Tersirat, namun sangat penuh dengan makna. Tak ada kata yang bisa terucap selain “Selamat Jalan Seniman Tua”. Kamu memang terlahir beda dan luar biasa. I Love You Full. Ha-ha-ha…

Comments

“My First Online Experience”

Internet mulai mengakrabi saya pada tahun 2002, itu artinya sudah 7 tahun yang lalu. Tanpa komputer, tanpa internet provider, juga tanpa warnet, saya bisa online setiap hari, hebat bukan? Hehehe… Mau tahu rahasianya? Itu sih gampang banget. Cari tempat kerja yang ada komputernya, dan jaringan internet yang online 24 jam non-stop. Contohnya perusahaan radio dengan format news seperti tempat saya bekerja dulu. Radio tempat saya bekerja, selain penyiar memberikan entertainment melalui lagu, obrolan-obrolan, juga memberikan berita-berita aktual kepada pendengarnya. Bahkan dalam satu jam ada tiga paket berita yang harus dikerjakan. Seperti berita terhangat nasional, berita terbaru lokal daerah, dan informasi olahraga. Dengan padatnya pemberitaan di radio tempat saya bekerja, maka internet menjadi infrastruktur wajib yang harus dimiliki.

Kebetulan diawal karir saya di radio, saya mendapatkan shift kerja malam hari. Artinya, selain kantor rada-rada sepi karena yang bertugas cuma empat orang, saya bisa menggunakan satu komputer sendirian tanpa ada satu orang pun yang mengganggu buat online. Jelas saja, karena kantor menyediakan enam komputer sementara yang bertugas malam cuman empat orang saja.

Awalnya, saya tidak tahu harus ngapain di depan komputer ini. Hari pertama saya kerja, disitulah saya pertama kali menggunakan internet. Hanya untuk mengetik alamat di address saja, senior saya harus menerangkan panjang lebar. “Jadi gini ya Rif, kamu ketik website apa yang kamu tuju di kotak ini. Trus jangan lupa di depannya di kasih www,” kata mbak Maya mentor saya di radio. Tapi penyesuaian menggunakan internet tidaklah membutuhkan waktu yang lama. Yah, paling-paling hanya membutuhkan waktu 10 menit. Setelah itu, mulai deh keranjingan dengan yang namanya browsing.

Beberapa website dikenalkan kepada saya sebagai tempat mengunduh berita. Beberapa nama yang saya ingat: www.detik.com dan www.satunet.com. Entah mengapa, sekitar dua tahun kalau tidak salah setelah saya mengenal internet, satunet.com sudah tidak beroperasi lagi. Tapi kalau membicarakan website apa yang saya buka selain web yang berkaitan dengan tugas saya membuat paket berita radio, ya jelas web yang berhubungan dengan musik, terutama musik melodic punk yang saya sukai waktu itu. Seingat saya, sangat susah mendapatkan lagu-lagu dari band ternama di mp3.com. Akibatnya, lagu-lagu yang saya unduh ya dari band-band melodic punk yang kurang punya nama. Tapi saya nggak menyesal kok. Pasalnya biar beberapa nama band seperti: Brodie, Rx Bandit, Rufio waktu itu tidak terkenal, musik mereka tetep keren, tetep gahar. Buktinya beberapa tahun setelah saya keranjingan download lagu-lagu melodic punk, aliran ini jadi booming. Bahkan nama-nama seperti Rufio, Lagwagon, menjadi idola band-band lokal.

Selain keranjingan download, internet juga membuat saya memiliki banyak teman yang memiliki hobi sama dengan saya selain bermusik, yakni hobi fotografi. Forumkamera.com –yang sekarang juga sudah almarhum—adalah website fotografi pertama yang saya kenal. Setelah itu saya jadi tahu ada kamera-digital.com dan Fotografer.net (FN). Dengan semakin bertambahnya teman, semakin banyak ilmu baru yang saya serap. Kalau dulu saya hanya tahu teknis memotret dari bangku kuliah (dimana saya adalah mahasiswa sekolah junalistik), saya juga jadi paham cara mengolah foto dengan menggunakan Photoshop. Semua ilmu itu saya dapatkan dan saya pelajari, ya dari beberapa teman di forum fotografi internet. Bahkan, job-job pemotretan seperti wedding, juga saya dapatkan karena forum di internet.

Sebagai penulis berita radio dan penyiar, saya kerap berinteraksi dengan pendengar untuk mendiskusikan isu terhangat di Indonesia dan kota Surabaya. Dari masukan-masukan pendengar ketika on-air bersama saya, dan beberapa keterangan narasumber yang saya ajak mengudara, saya pun iseng-iseng menulis artikel di rubrik opini suatu koran. Alhamdulillah beberapa diantaranya dimuat, dan saya juga bisa mendapatkan honor dari menulis. Dan saya pikir semua itu berkat internet. Karena saya bisa mendapatkan banyak data dari browsing, dan email membantu saya mengirimkan tulisan dengan sangat cepat.

Beruntunglah saya yang tidak punya komputer, apalagi internet provider, tetapi bisa browsing suka-suka. Dan berbahagialah saya karena mendapatkan tempat kerja yang menyenangkan, karena dari sanalah pengalaman online pertama saya berasal. Dan seiring dengan majunya teknologi informasi, online menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Terutama untuk mereka yang sangat suka online untuk mengupdate blog, facebook, dan menjawab pesan dari teman-teman kita di YM, betul?

Comments (1)

I’m Comeback

Akhirnya setelah IM2 Broom Xtra Unlimited mampir ke kamar, saya bisa upload tulisan sepuasnya. Sebagai pembuka untuk mengawali upload saya ditahun 2009 ini saya cuma mau bilang: tes..tes..testing..hehehe

Comments

PROSES INI HARUS TETAP TERJADI

Keindahan hidup itu terletak dari dinamikanya. Jika hidup berlangsung sama setiap waktunya, maka hidup belum benar-benar hidup. Hari-hari ini, saya sedang dalam proses menuju ketempat yang baru. Saya masih belum memiliki gambaran terang tentang kehidupan baru saya nanti, tapi yang pasti, kehidupan baru itu sudah saya pilih. Artinya, tertutup sudah pintu kehidupan lama saya.

Saya tidak hendak membicarakan kehidupan baru saya itu. Karena memang saya belum menjalaninya. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, bagaimana proses meninggalkan sesuatu yang sudah lama menjadi rutinitas kita itu, begitu berat. Sama seperti ketika seorang suami yang harus bercerai dengan istri yang masih ia cintai. Seperti seorang pria yang harus rela berpisah dengan kekasihnya yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.

Ketika seorang kawan saya mengirimkan sebuah sms: “Terima kasih karena kita sudah menjadi tim selama 6 tahun ini, selamat berjuang!” seketika juga hati saya serasa menangis. Saya seperti seorang yang sedang patah hati. Meninggalkan orang-orang yang sudah membimbing saya selama ini. Meninggalkan kantor yang sudah membesarkan saya sejak saya kuliah dulu. Berat, meski tidak terlalu menyakitkan. Berat karena saya memang belum pernah menjalani proses perpisahan seperti ini.

Disaat yang sama, masalah yang tidak kalah beratnya juga berada didepan saya. Nenek saya sedang terbaring kritis di rumah sakit. Beliau menderita penyakit diabetes. Selama ini, jika nenek saya tiba-tiba lemas, hilang kesadaran, dan mengeluarkan cairan dari mulutnya, maka diagnosa dokter yang saya tahu, gula darah nenek saya sedang turun. Malam itu, kami sekeluarga juga mengira gula darah nenek sedang turun. Tapi dugaan saya salah. Ternyata gula darah beliau normal. Artinya, ada yang salah dalam sistem saraf beliau. Usia nenek lebih dari 70 tahun. Bahkan hampir 80 tahun mungkin.

Satu persatu proses yang saya anggap masalah ini cukup berat menyerang saya. Terutama menyerang pikiran saya. Namun mungkin inilah yang disebut banyak orang dengan sebutan takdir. Dan mau tidak mau, maka saya wajib menjalaninya. Enak atau tidak enak, saya harus menelannya. Jika ada orang yang sedang membaca tulisan ini, dengan segala harapan akan keihlasan yang tulus, saya berharap anda mau memberikan doa untuk kehidupan saya. Termasuk untuk nenek yang sedang terbaring lemah.

Comments

WIN WIN SOLUTION PENERTIBAN PKL

Setelah penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang gencar dilakukan akhir-akhir ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana menghijaukan kawasan bekas penertiban PKL. Caranya, dengan menanam sejumlah pohon disejumlah lokasi yang sekarang steril dari PKL. Menurut Kabid Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Aminuddin pada media massa, penanaman pohon itu untuk menambah hijau kota dan sekaligus sebagai antisipasi kembalinya para PKL. Ruas jalan yang sudah mulai ditanami, adalah sisi selatan Jalan Pandegiling dan sisi barat Jalan Kapasari.

Sementara beberapa Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan Praban, Surabaya, juga mengaku resah dengan rencana pembangunan pedestrian cross walk, yang akan berimbas pada keberlangsungan hidup mereka. Jika pembangunan pedestrian dimulai, maka secara otomatis ratusan PKL yang ada dikawasan itu akan gulung tikar. Padahal, biaya hidup sehari-hari dan mengepulnya dapur rumah tangga mereka, berasal dari kristalisasi keringat mereka di Jalan Praban. Dalam kondisi seperti ini, Pemerintah Kota Surabaya dihadapkan pada posisi yang dilematis. Pembangunan pedestrian merupakan master plan pembangunan kota Pahlawan ditahun 2008, namun pembangunan yang secara halus mengusir keberadaan PKL, tentu melanggar hak hidup seseorang untuk mendapat penghidupan yang layak. Negara ini dalam UUD ‘45 pasal 27 ayat 2 menyebutkan, bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan     

Meski pemkot memiliki Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2003 tentang Pemberdayaan PKL di Surabaya sebagai pijakan hukum, namun peluang pelanggaran hak warga negara sangat berpeluang terjadi. Apalagi jika pembangunan nantinya, tidak memunculkan solusi seperti dimana tempat relokasi bagi ratusan PKL yang berada disana. Persoalan penertiban PKL memang sudah puluhan tahun menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Surabaya. Contoh kasus diatas, hanyalah secuil dari persoalan penertiban PKL yang selama ini terjadi.

Padahal jika kita melihat secara positif potensi keberadaan PKL, Pemkot bisa mengeruk rupiah dari keberadaan mereka. Bukankah setiap PKL yang ada di Surabaya selalu diwajibkan membayar retribusi? Data resmi yang ada di dinas koperasi dan sektor informal pemkot menyebut angka 18.823 PKL, sementara menurut Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), jumlah PKL di Surabaya mencapai 56.000. Kalau satu PKL diwajibkan membayar Rp 500, maka jika kita kalikan dengan data pemkot saja, kota ini bisa meraup Rp 9.411.500/hari.

Keberadaan PKL Dibutuhkan Lingkungan Sekitarnya

Sejak ditinggalkan ratusan PKL yang sudah berjualan sejak tahun 1980-an, Tunjungan Centre (TC) terlihat sepi pengunjung. Bahkan pertokoan Siola yang sempat menjadi primadona warga Surabaya, juga tidak seramai dulu. Jaman memang berubah, mungkin TC dan Siola kalah bersaing dengan mall atau plasa lain yang lebih menarik. Namun, magnet dari pertokoan itu bukanlah terletak pada isi dagangannya, melainkan keberadaan PKL yang sempat meramaikan Jl. Tunjungan-lah yang membuat sentra perdagangan barang elektronik tersebut terasa lebih “hidup”.

Sinergi antara pertokoan dan PKL sebenarnya sudah tergambar dengan suksesnya Malioboro sebagai ikon pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Malioboro menjadi legenda wisata belanja Indonesia, karena kawasan sepanjang dua kilometer tersebut mampu mensinergikan, jajaran toko, ratusan PKL seperti penjual suvenir dan makanan lesehan, sampai pertokoan modern yang bernama Malioboro Mall. Dilihat dari bentuk lokasinya, kawasan Tunjungan harusnya mampu mengadopsi kesuksesan Malioboro.

Sementara mengenai ketertiban, pemerintah kota Surabaya bisa belajar dari Makodam V/Brawijaya. Setiap malam, lapangan makodam seolah disulap, berubah menjadi pasar malam yang komplit dan menarik. Ditempat ini, pengunjung bisa berbelanja pakaian, suvenir, makanan, sampai arena bermain untuk anak-anak juga tersedia. Tapi yang menjadi kelebihan Pasar Malam Kodam dengan tempat lain adalah ketertibannya. Untuk pedagang, diwajibkan membuat lapangan milik TNI-AD bersih sebersih-bersihnya pada pagi hari. Meski saat geliat aktifitas dimalam hari banyak sampah berserakan dibawah bedak dagangan, namun saya berani memastikan, kalau kita akan kesulitan menemukan satu lembar kertas pembungkus-pun saat pagi hari. Karena jika pedagang melanggar konsekuensi kebersihan ini, sudah pasti Pasar Malam ini akan dibubarkan. Sedangkan untuk pengunjung, dilarang keras memarkir kendaraannya disekitar lapangan Makodam. Semua diwajibkan masuk kedalam lapangan, dan diatur sedemikian rupa ketertibannya. Bahkan jika ada yang nekat duduk-duduk disamping lapangan Makodam sambil memarkir motornya, rekan-rekan TNI yang berjaga tidak segan-segan mengusir.

Hal-hal seperti inilah yang sangat mungkin diterapkan dikawasan Tunjungan sebagai pusatnya PKL Surabaya. Jajaran toko yang ada disana akan dikawinkan dengan ratusan PKL yang sudah siap diatur. Pemkot mendata ulang jumlah PKL yang akan ditempatkan dikawasan Tunjungan, dan diberi tempat sesuai dengan nomer urutnya. Para PKL diwajibkan untuk menjaga kebersihan lokasi, dengan koordinasi dibawah Ketua Paguyuban PKL. Aturannya antara lain seperti: dilarang berjualan didepan pintu masuk toko, dilarang membuang sampah sembarangan, sampai dilarang keras meninggalkan bedak jualan diatas trotoar saat malam.

Sedangkan untuk ketertiban lalu-lintasnya, Pemkot berkoordinasi dengan rekan-rekan kepolisian, dimana Polisi dapat menegur atau bahkan memberlakukan tilang bagi pembeli yang tidak memarkirkan kendaraannya ditempat yang telah disediakan. Jadi jika kita ingin jalan-jalan dan berbelanja dikawasan Tunjungan, wajib memarkirkan dulu kendaraan kita. Dengan demikian tidak ada peluang berhenti disembarang tempat, karena hal inilah yang pada akhirnya membuat PKL disebut sebagai biang kemacetan, karena beberapa pembelinya juga tidak tertib.

Pedestrian dikawasan Tunjungan saat ini sudah lebar dan nyaman untuk pejalan kaki. Sekarang tinggal bagaimana langkah Pemkot, memanfaatkan keberadaan PKL sebagai daya tarik pejalan kaki dengan menyulap kawasan Tunjungan sebagai Malioboro-nya Surabaya. Bukankah dari dulu kalau kita ingin mlaku-mlaku selalu nang Tunjungan.

Dipublikasikan Metropolis Jawa Pos, Kamis 27 Maret 2008

Comments (1)

« Previous entries